
Dipandang sebelah mata, atau… being invisible kadang ku anggap kelebihan, namun juga sumber insecurities ku. Mungkin inner child ku, yang dulu pernah merasa terabaikan masih belum sembuh benar. Seperti kulit bawang yang dikupas, ternyata masih ada lapisan selanjutnya yang menanti untuk sembuh. Tadinya kupikir healing atau kesembuhan itu terjadi dalam sekejap, ternyata perlu usaha berulang-ulang, sama seperti saat kita mengupas bawang.

Malam ini dalam perjalanan pulang ke rumah, aku habiskan dengan menggerutu tentang bagaimana aku merasa invisible dalam suatu pertemuan dengan beberapa teman. Prasangka, asumsi, lagi-lagi Icha kecil yang dulu sering dibandingkan dan dibully menangis kesakitan, karena hari ini mengingatkan dia akan masa suram tersebut.

Padahal tadinya kupikir luka itu sudah kering, tapi lagi-lagi perihnya mulai terasa jelas. Mungkin itu sebabnya aku tidak terlalu menyukai keramaian. Karena seringkali ributnya orang banyak membuat si Icha kecil di dalam sini merasa kesakitan lagi. Aku mau si Icha kecil itu sembuh dulu. Aku berharap ia berhenti merasa sakit lagi.

Tiba-tiba saat ku scroll Instagram story, kulihat salah satu teman kecilku, Eliya, yang kini beranjak dewasa menyanyikan lagu Hosanna in the Highest dengan sangat merdu.
Heal my heart and make it clean
Open up my eyes to the things unseen
Show me how to love like You have loved me
Break my heart for what break Yours
Everything I am for Your Kingdoms cause
As I walk from earth into eternity
Hatiku terenyuh hingga tanpa sadar air mata menetes. Begitu keras kata-kata itu menamparku sehingga membuatku kembali kepada realita.
Juga membawaku kembali ke memori beberapa tahun lalu, saat aku menumpang di rumah mentorku semasa kuliah dulu. Migala Martha. Seorang wanita paruh baya, seorang Pengkhotbah di gereja, yang saat itu invisible di mataku. Alasannya, simply karena beliau tidak bisa berbahasa Inggris, tata bahasa Belandanya berantakan, selalu sibuk di dapur mengurus makanan untuk seluruh jemaat gereja, satu lagi beliau jarang sekali mengobrol. Hal itu membawaku kepada kesimpulan bahwa beliau hanya seorang Kristen yang terlalu taat, berpikiran sempit dan naif.
Tak kusangka, the Invisible Migala, ternyata merupakan seorang wanita hebat yang memiliki peran penting dalam kesembuhan mentalku, perjumpaan pribadiku bersama Tuhan, main support systemku, dan alat yang Tuhan pakai untuk menyentuh banyak jiwa. Migala yang semasa hidupnya tak banyak diperhatikan orang, karena ia lebih banyak diam dan sibuk mengurus keperluan semua orang di gereja. Namun, saat kepergiannya, semua menangis dan merasa kehilangan yang sangat besar.
Setelah mengenalnya, ternyata tak pernah ia merasa bahwa dirinya invisible. Karena ia sadar penuh bahwa dirinya sangat dilihat dan diperhatikan oleh Tuhan. Hal kecil seperti mendapat setangkai bunga dari orang asing cukup membuat harinya indah, karena ia menurutnya itulah cara Tuhan memperhatikannya.
Sebelum kepergiannya, saat hampir setiap hari kami video call, tak satupun keluhan kudengar tentang kanker yang sedang menggerogoti tubuhnya.
Malahan selama sejam bahkan kadang tiga jam ia dengarkan semua cerita persiapan pernikahanku beserta berbagai dramanya. Ia memberikanku semangat, bercanda tawa, mengatakan niatnya untuk datang ke pernikahan kami, juga mendoakanku beserta calom suamiku.
Terlalu besar kasih Tuhan yang ia rasakan dan saksikan sehingga ia punya cukup kasih untuk orang lain dan juga Tuhan. Terlalu besar kasih Tuhan yang ia rasakan dan terima, sehingga ia tidak perlu terlalu lama mengasihani diri sendiri.
Dulu aku pikir orang terbahagia adalah orang yang terkenal dan populer, punya teman di seluruh antero dunia, banyak uang dan pasangan seperti pangeran.
Namun, setelah menyaksikan hidup Migala, aku menyadari bahwa fokus dengan kehadiran Tuhan akan membawa kita pada true happiness, true peace.
Sepertinya mengarahkan mata kita kepada Tuhan dan fokus merasakan kasih sayang Tuhan akan membawa kita pada kehidupan yang penuh, utuh dan bahagia.
Hari ini akan kulakukan hal-hal yang dulu menjadi celetukan kecil Migala yang sering ia sampaikan kepada Tuhan
Tuhan, terima kasih ya, Kamu manis sekali kepadaku, Kau buat anakku tidur nyenyak saat hatiku sedang kacau. Kau ijinkan aku mendengar lagu yang menyentuh hatiku dan membawaku kembali kepada kesembuhanku. Kau berikan aku waktu untuk menyendiri dan merenung, untuk quality time agar aku dapat merawat diriku sendiri. Aku bisa dengar suaramu sangat jelas malam ini.
Hatiku tadi sedikit terluka, kamu tiba-tiba mengingatkanku pada sosok Migala. Mengingatnya, akan sikap hidupnya, sudah cukup untuk membuat hatiku sembuh. Si Icha kecil yang tadinya menangis mengasihani dirinya, sekarang tersenyum dan kuat kembali. Aku tidak invisible, aku berharga karena aku merasakan kebaikan dan kasih sayangmu setiap hari. Memang diri ini harus di ingatkan untuk bisa kembali sembuh. Terima kasihTuhan dan Migala tersayang.