
“Kenapa dipakein bando bayinya? Nanti kepalanya mengecil, gak berkembang loh. Dilepas aja gih bandonya!”
“Itu anaknya nangis karena laper, ayo cepetan disusuin. Gimana sih malah digendong aja?!”
Baru kali ini kurasakan dalam hidup begitu banyaknya jumlah unsolicited advice atau saran tak diundang, maupun kritik yang tidak ada ujungnya. Sampai terkadang aku menghindari banyak acara kumpul-kumpul demi menjaga kesehatan mentalku.
Tak banyak orang mengerti tantangan dan dilema seorang ibu baru yang sedang dalam masa transisi. Dilema merindukan sosialisasi dengan orang di luar sana tapi juga membutuhkan ketenangan dan kebebasan untuk mengurus rumah tangga dengan cara kami sendiri.
Dorongan untuk membalas celetukan orang begitu kuat terasa, namun juga terlalu lelah untuk berdebat. Akhirnya hanya kujawab dengan kata ‘iya’.
Kadang ada yang bilang “kan baik juga apa yang dibilang, selama itu baik dilakukan aja toh!”
“Ambil nasehat yang baik, gausah dianggap sebagai insult, anggap itu sebagai pelajaran untuk jadi lebih baik.”
Sekali lagi aku merenung, berpikir… mengapa hatiku memberontak. Emosi apakah yang tepat menggambarkan gejolak perasaan ini? Apa sajakah alasan dibalik semua emosi ini?
Pertama, muak. Tak banyak orang tahu bahwa sebagai ibu baru, kami punya waktu dan cara sendiri untuk mengedukasi diri. Tanpa disuruh pun kami banyak belajar dan mencari tahu, lewat membaca, menonton konten edukatif, bahkan sampai mengikuti berbagai training, seperti sleep training, nutrisi, parenting dan lain sebagainya. Tak usah pula ditanya banyaknya pelajaran yang kami serap tiap hari lewat bayi kami sendiri. Kadang saking seringnya kami pikirkan, hal tersebut sampai terbawa mimpi.
Nah, saat kami sedang duduk memberi makan bayi kami, atau berkomunikasi dengan bayi kami di tempat umum, di saat itulah kami sedang menerapkan cara yang kami anggap paling efektif untuk mendidik mereka. Belum sempat kami menikmati trial and errors dari kegiatan tersebut, harus kami dengar berbagai masukan dan intervensi yang membuat konsentrasi kami buyar.
Kedua, ragu. Tentu saja seperti ku katakan tadi, dalam belajar pasti ada trials and errors yang mungkin membuat orang yang menyaksikan merasa gemas. Namun percayalah, lewat trials and errors tersebut kami memupuk rasa percaya diri kami. Terlalu banyak nasehat justru membuat kami menjadi ragu-ragu dan gugup untuk melakukan aktivitas kami.
Ketiga, lelah menjelaskan. Sebagai orang tua tentu saja kami punya pertimbangan sendiri mengenai bagaimana kami mau mendidik dan mengasuh anak kami. Pertimbangan yang kami pilih juga memiliki latar belakang masing-masing yang sulit untuk kami jelaskan.
Contohnya, melatih bayi tidur sendiri. Beberapa orang menasihati ku untuk menaruh bayiku di crib dan membiarkan ia tidur tenang sendiri tanpa harus selalu disusui sebelum tidur.
Iya, paham, akupun puluhan kali menonton konten sleep training dan memahami manfaat bayi tidur terpisah dari orang tua. Namun, sebagai ibu pejuang long distance marriage yang merawat bayi seorang diri, tidur bersama bayiku bukanlah beban melainkan obat. Obat akan rasa rindu akan suami, akan rasa sepi yang kadang suka mampir di malam hari, juga akan rasa lelah setelah seharian mengurus ina inu. Kadang menonton bayiku tertidur lelap sambil tersenyum atau membuka mulut kecilnya cukup menghiburku di malam yang sepi.
Inilah contoh latar belakang mengapa tidak ku terapkan metode tidur di crib sendiri. Namun tentu saja aku tetap lakukan cara lain untuk melatih kemandiriannya.
Malas rasanya untuk selalu menjelaskan alasan dari setiap hal yang kami lakukan.
Ke empat, frustrasi. Yang kami butuhkan adalah telinga yang mau mendengar dan solusi yang praktikal, bukan kritik maupun saran yang terkadang mengada-ada.
Percaya atau tidak, seorang ibu, dengan apapun pilihan hidup yang ia jalani, otaknya tidak pernah libur untuk menyelesaikan masalah. Otak dan tubuh yang lelah, kadang tak kuasa menampung berbagai masalah baru yang datangnya dari fantasi liar maupun prediksi tak berdasar dari orang sekitar.
Jangan pakai gendongan kayak begitu, nanti kaki anakmu jadi ‘o’ loh!
Kok anaknya pendiam. Anakku umur segitu udah cerewet. Jarang diajak ngomong ya? Awas nanti kena speech delay loh.
Ujar seseorang yang mencoba mengajak anakku yang baru bangun tidur untuk berbicara.
Seringkali orang luar hanya datang menyampaikan masalah baru yang mengada-ada dan juga tanpa solusi yang bisa langsung meringankan bebanku.
Cukup! Cukup dengan unsolicited advice! Aku pasti akan datang dan minta pendapat kalian kalau aku membutuhkannya. Tapi saat aku sedang tenang bermain bersama anakku atau sekedar beraktivitas, mohon beri aku ketenangan.
Di bawah ini Tips dan trik kalau kamu merasa penting dan urgent untuk menasihati seorang ibu baru.
1. Bagikan video edukatif
Video edukatif dengan pesan yang dibungkus dengan menarik, narasumber dan referensi yang jelas, ditambah solusi tips dan trik praktis menurut kami jauh lebih baik daripada sekedar celetukan nasehat yang sifatnya random.
2. Memberikan Solusi sekaligus menawarkan Support
Ibuku tidak banyak memberi nasehat namun beliau datang ke rumah mengajarkanku untuk membuat mpasi, sekaligus membantu selama seminggu untuk memasak untukku dan bayiku yang sedang sakit.
Jujur, tanpa banyak bicara aku mendapatkan ilmu yang luar biasa darinya. Kehadirannya dengan solusi menyuntikkan semangat dan inspirasi yang seketika dapat aku terapkan dalam caraku menangani rumah tangga.
3. Menjadi Role Model
Contoh yang kongkret. Bagiku itulah cara terbaik memberi nasehat.
Percayalah, jika kami melihat contoh yang nyata dan inspiratif dari anda, kami pasti akan datang meminta saran anda.
4. Buku edukatif untuk ibu
Banyak ibu muda saat ini juga gemar membaca buku. Daripada rusak mood mereka dengan nasehat-nasehat anda yang mungkin belum kuat dasarnya, lebih baik belikan mereka buku-buku yang menginspirasi tentang parenting.
Kami akan sangat menghargai kepedulian anda dan kemungkinan bisa mengikuti nasehat yang ada di buku tersebut karena lebih berdasar dan memiliki referensi yang jelas.
5. Mendengarkan
Yang diperlukan oleh seorang ibu muda seringkali hanyalah telinga yang mau mendengarkan segala unek-uneknya.
Perjalanan sebagai seorang ibu baru penuh dengan adaptasi dan kesunyian. Sangat langka kami bisa memiliki kesempatan untuk mengeluarkan unek-unek karena seharian mengurus banyak hal. Daripada datang dengan nasehat tak diundang, bagaimana dengan sediakan telinga anda untuk mendengarkan? Sepertinya hal itu lebih efektif bagi kami.
Ada satu pepatah yang aku suka, ‘Kebaikan bisa terjadi secara SPONTAN. Namun, semakin bernilai lebih bila ditambah dengan kebaikan yang DIRENCANAKAN.’
Daripada mengeluarkan celetukan nasehat spontan yang belum tentu memberi manfaat kepada ibu baru. Lebih baik rencanakan support apa yang bisa anda tawarkan untuk memudahkan tugas mereka.