Pindahan?! Siapa Takut??

Halo, good night everyone. FYI, minggu ini kami menempati tempat tinggal ke-14 kami sejak pertama menikah di tahun 2021. Bener-bener aku merasakan ‘life is never flat’. Karena hampir setiap 2 bulan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sebagai seorang yang gemar travelling, aku cukup senang dengan suasana baru, mempelajari tempat baru, lingkungan baru dan bertualang, tapi ternyata pindahan dengan bayi itu sangat melelahkan dan bikin stress gaes.

Di bawah ini merupakan caraku untuk survive dan stay happy saat pindah ke tempat baru bersama bayi:

1. Teratur Pangkal Happy, Berantakan Pangkal Stress

Packing dan unpack itu hal yang paling monoton dan melelahkan banget tiap pindahan. Belum lagi harus cari bagian dari perabot atau peralatan yang hilang atau terselip, alamaak… rasanya berjam-jam bisa habis untuk bongkar pasang barang.

Maka dari itu, melihat susahnya cari peralatan ina inu yang suka terselip, kami selalu memastikan untuk mengelompokkan barang dan selalu menaruh di tempatnya setelah digunakan. Alat mpasi, peralatan masak, alat makan, dll, semua kami pastikan untuk berada di dalam kelompok yang sama setelah habis digunakan. Ini sangat amat memudahkan kami saat akan packing untuk pindahan.

2. Perencanaan adalah Koentji

Tentunya tiap tempat menawarkan suasana dan hawa yang berbeda-beda. Ada yang hangat, dingin, bersih, berdebu, sepi, ramai, berantakan dan ada juga yang teratur. Tentunya sebagai pendatang baru, harus menyesuaikan tubuh, mental, dan jiwa supaya bisa berbaur dengan lingkungan baru.

Nah, ditambah dengan kehadiran bayi!Walaupun Baby D cenderung mudah beradaptasi, tapi Baby D seringkali mengalami sleep terror di beberapa tempat baru. Terutama tempat yang agak berisik, panas, pengap, ataupun pencahayaannya kurang baik.

Maka dari itu, kami selalu memastikan untuk mengecek tempat yang akan kami tinggali sebelum membawa bayi kami pindahan.

Sejak lahir Baby D selalu tidur dengan kamar yang berhawa sejuk, jadi tubuhnya cukup cepat berkeringat saat tidur di tempat yang panas dan pengap. Untuk menghindari drama di malam hari, kami selalu memastikan kamar baru kami memiliki suhu udara paling tinggi 23 ataupun 24 derajat Celcius.

3. Banyak Barang Banyak Pikiran

Ongkos perjalanan, pengangkutan, belum lagi pembelian ini itu kebutuhan rumah tangga yang gabisa dibawa dari tempat tinggal sebelumnya. Hal-hal ini cukup banyak menguras dompet dan tabungan gaes.

Karena belum mendapatkan tempat tinggal yang settle kami mengurangi pembelian peralatan ataupun perabotan, terutama yang berat dan sulit dipindahkan, juga pernak pernik kecil yang lucu tapi gak penting.

Begitu juga dengan keinginan untuk membeli segala macam mainan ataupun peralatan bayi, selalu aku minimalisasi dan pastikan bahwa peralatan tersebut betul-betul dibutuhkan dan mudah untuk di mobilisasi kesana kemari.

5. Nikmat Perpisahan

Di masa awal pindah dari satu tempat ke tempat lain, aku sering merasakan kesedihan yang agak berlebihan. Entah itu saat berpisah jarak dengan suami karena tuntutan pekerjaan; berpisah dengan pekerjaan sebagai tenaga pengajar karena prioritas yang bentrok; apalagi berpisah dengan sahabat senasib sepenanggungan.

Namun, setelah berkali-kali pindah sana sini akhirnya aku menemukan cara terbaikku dalam menghadapi separation anxiety. Salah satu cara terbaikku adalah: kata-kata peneguh hati bahwa perpisahan bukan akhir dari kisah hidupku.

Misalnya saat harus LDM dari suami, aku belajar yakinkan diri sendiri dengan beberapa kalimat peneguh hati, “LDM ini tidak akan berlangsung untuk selamanya! Kami akan berkumpul lagi! Kami akan berkumpul lagi!” Kuulang-ulang mantra ini saat rindu dan galau berlebihan menguasai hatiku.

Saat harus berpisah dengan sahabat karib, beginilah kira-kira yang kami ulang-ulang “Inget! Kita bakal cerita-cerita lagi yaa nanti… masih ada telfon, WhatsApp, jarak kita juga gak jauh, kalo libur masih bisa ketemu yaa”

Ternyata kata-kata peneguh cukup memberikanku harapan saat berpisah jarak tiba.

Kesimpulannya…

Sebaik apapun kita merencanakan proses pindahan, tetap akan ada hal-hal yang terjadi di luar rencana. Contohnya, kami pikir pindahan ke-14 ini akan berjalan mulus sesuai rencana, ternyata malam pertama pindahan, AC kamar baru kami ternyata rusak, alhasil kami harus menginap di hotel karena Baby D histeris kepanasan di malam hari.

Saat hal tidak berjalan mulus, ingatkan diri bahwa segala drama pindahan merupakan proses kita untuk membuka kesempatan baru, proses menemukan diri kita yang baru, proses menemukan dunia yang baru. Jadi peluk erat segala proses tersebut yang akan menjadi bagian dirimu.

Semangat Berproses Semua!




Design a site like this with WordPress.com
Get started